⛄ Kyai Karomah Tinggi Yang Masih Hidup

Kisahkisah karomah yang meliputi Kyai Muzakki. Kini tinggal tiga orang yang masih hidup, yaitu H. Nu'man, H. Nasikh dan H. Idris. Kyai Hamid menjalani masa-masa awal kehidupan berkeluarganya tidak dengan mudah. Selama beberapa tahun ia harus hidup bersama mertuanya di rumah yang jauh dari mewah. Dari ketinggian bukit itu, tampak KyaiHaji Mohammad Hasyim Asy'ari, bagian belakangnya juga sering dieja Asy'ari atau Ashari, lahir 10 April 1875 (24 Dzulqaidah 1287H) dan wafat pada 25 Juli 1947; dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang, adalah pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia. AjiPancasona, siapa yang tak pernah mendengar nama ilmu kesaktian yang sangat sangat kesohor ini. Pancasona merupakan salah satu ilmu kanuragan tingkat tinggi di pulau Jawa. Dalam berbagai kisah kependekaran, ilmu satu ini dikenal sebagai ilmu hitam yang menimbulkan fenomena yang sangat aneh. Misalkan, bagian tubuh yang putus dapat menyambung 11 Lahir 1.2 Riwayat Keluarga Sunan Geseng 1.3 Wafat 2.1 Guru Sunan Geseng 3.1 Anak Sunan Geseng 3.2 Murid Sunan Geseng 4.1 Awal Mula Perjalanan Sunan Geseng 4.2 Menjadi Murid Sunan Kalijaga 4.3 Perjalanan Dakwah Sunan Geseng 5.1 Makna Simbolik Jalasutra 5.2 Mempersiapkan Jamuan Pelantikan Raja Demak dengan Sepotong Bambu 1 Riwayat Hidup dan Keluarga 1.1 Lahir kyaikaromah tinggi Asma Sunge Raja Cirebon. January 1, 2016 - Ritual dilakukan sendirian di kamar yang gelap atau akan lebih baik lagi ritual dilakukan di luar rumah dan di pinggir sungai. membunuh mahluk hidup tanpa hak dan berzina karena bisa menyebabkan ilmu hilang. Cara pengamalan : Tiap TENGAH MALAM lakukan shalat hajat lalu taruhannya.Sosok kyai ini sampai sekarang masih berawal saat beliau mendapatkan sejenis ilham atau isyarat atau apalah yg membuat beliau gundah dan bisa gak bisa harus beliau lakukan yaitu ke kalimantan.karena keyakinan ini beliau pamit sama bapaknya yg sudah renta dan juga pamit sama anak/istrinya dan seluruh santrinya yaitu Pada abad ke-19 Masehi, hiduplah seorang ulama yang dikenal pada masanya. Ki Soleh Darat, itulah namanya. Semasa hidupnya, Ki Sholeh Darat dikenal akan ilmunya yang tinggi. Berbagai karya monumental ia buat. Berkat ilmunya yang tinggi itu, ia mendapat pengakuan dari penguasa Mekkah dan dipilih menjadi seorang pengajar di sana. Kedatangan nelayan itu membuka tabir. Ternyata saat memberi pengajian, Mbah Kholil dapat pesan agar segera ke pantai untuk menyelamatkan nelayan yang perahunya pecah. Dengan karomah yang dimiliki, dalam sekejap beliau bisa sampai laut dan membantu si nelayan itu," papar kiai Ghozi yang kini tinggal di Wedomartani Ngemplak Sleman ini. Setiaporang mempunyai alasan dan kebutuhan tersendiri mengapa mencari artikel KYAI ASLI BENER2 AMPUH SAKTI MASIH HIDUP SAMPAI SEKARANG DI DAERAH CERIBON JABAR di internet. Namun sayangnya, artikel KYAI ASLI BENER2 AMPUH SAKTI MASIH HIDUP SAMPAI SEKARANG DI DAERAH CERIBON JABAR yang diminati oleh banyak orang ini sangat terbatas jumlahnya di JakaSupa dan Majigja tak bergeming, ternyata hanya mereka berdua yang masih tersisa dari serangan hawa kantuk tersebut, mereka meningkatkan kewaspadaan , setelah mereka cermati ternyata sinar yang menebar teluh tersebut adalah Keris Kyai Condong Campur. Sabuk Inten yang sedari tadi sudah okrak-okrok pengen keluar dari warangkanya tiba tiba Konon menurut cerita Ajian Saipi Angin hanya bisa dimiliki oleh para pertapa atau pendekar kelas tinggi. Ajian ini selain sangat langka yang memilikinya, persyaratannya sangat berat. Aji Saipi Angin menggunakan lelaku, salah satunya berpuasa hanya memakan daun-daun mentah saja tanpa diberi garam. Minumnya juga air tawar, tetapi dapat juga direbus. Olehkarenanya, Kiai Dimyati selama hidupnya dikenal sebagai kiai yang memiliki karomah yang tinggi. Tak hanya itu, Kiai Dim dikenal sebagai kiai yang sangat dermawan dan pandai merahasiakan sedekah. Serta tidak pernah membuat repot, apalagi menyakiti orang. Dengan kelebihan-kelebihan tersebut, KH Dimyati mendapatkan sebutan sebagai Kiai Pendito. 84n2. ORANG Indonesia sering menyebut “karomah” dengan “keramat” yang berkonotasi sakral atau kudus. Bagi orang Banten, baik Jawa maupun Sunda, justru kata “keramat” itu dikonotasikan dengan sesuatu yang menyeramkan. “Awas, jangan lewat situ, ada kuburan keramat.” Ketakutan-ketakutan tak beralasan yang sering dihembuskan para tetua leluhur berikut macam-macam pamali dan pantangan, yang sebagian tidak masuk akal, justru menghambat kreativitas dan produktivitas orang Banten itu sendiri. Ingin saya jelaskan dulu bahwa kata “karomah” berasal dari bahasa Arab, yang berarti “kemuliaan” atau “anugerah yang mulia”. Pengertian ini dapat digambarkan dengan sebuah cerita yang dialami Ustaz Sulaiman Effendi, murid dari Kiai Rifa’i Arief pendiri Daar el-Qolam, ketika ia akan mendirikan pondok pesantren, dengan nama “Manahijussadat”, yang berarti jalan hidup bagi orang-orang mulia. Berawal dari silaturahmi seorang alumni Tebuireng, Rafiuddin di kediaman Ustaz Sulaiman Effendi. Ia memberitahukan bahwa di daerah Cibadak, Rangkasbitung, ada seseorang yang ingin menjual tanah seluas m2. Setelah adanya kecocokan mengenai lokasi dan situasi setempat, kontan Ustaz Sulaiman menemui pemilik tanah tersebut, yakni H. Syarjawi yang menentukan harga senilai Rp. saat itu tahun 1995, sebelum krisis moneter. Ustaz Sulaiman merasa kebingungan, dari mana uang sebesar itu mesti didapatkan. Keinginan ada, harapan begitu tinggi, obsesi begitu memuncak, doa-doa sudah dipanjatkan siang-malam. Tapi, dari mana uang sebanyak itu bisa diperoleh? Tak berapa lama, Ustaz Sulaiman diundang untuk mengisi acara khutbah Jumat di masjid Al-Hidayah, komplek perumahan Bank Indonesia, Jakarta. Selepas salat Jumat, seorang sahabatnya yang tinggal di sekitar komplek itu, yang juga bernama H. Sulaiman mantan konsultan BTN tiba-tiba mengundangnya untuk makan siang di rumahnya. Seusai makan siang, tiba-tiba terlontar ucapan dari sahabatnya itu “Ustaz Sulaiman, dulu saya pernah mendengar kabar bahwa Ustaz bercita-cita mendirikan pesantren, apakah keinginan itu masih ada di hati Ustaz?” “Insya Allah, mudah-mudahan Allah memberikan jalan, doakan saja Pak Haji.” “Begini, Ustaz Sulaiman,” ia menggeser kursinya lebih mendekat, “Saya punya perhiasan dari peninggalan almarhum istri saya. Saya sudah rundingkan dengan anak-anak bahwa perhiasan ini akan diwakafkan untuk pendidikan pesantren, dan mereka semua sudah sepakat. Jadi, kalau Ustaz Sulaiman jual semua perhiasan ini, kira-kira harganya mencapai 6 juta rupiah. Saya harap Ustaz Sulaiman tetap istiqomah, dan rela menerima pemberian dari saya ini.” “Baiklah, Pak Haji, nanti akan saya persiapkan berkas-berkasnya terlebih dahulu.” Dan mereka pun saling berjabatan tangan dengan mantap. baca “Roman Biografis Sulaiman Effendi”, bab 7. Pindahnya Pesantren Al-Mizan Karomah yang dialami Kiai Anang Azharie, pengasuh ponpes Al-Mizan tidak kalah menarik. Sejak langkah-langkah pertama Kiai Anang sudah menggagas nama pesantrennya “Daar El-Mizan”, yang mengandung arti “pertimbangan” atau “rumah timbangan”. Bahwa hidup manusia harus punya timbangan ilmu dan amal, lahir dan batin, religius dan rasional, bahkan duniawi dan ukhrawi. Pada perkembangan selanjutnya pemberian nama tersebut lebih dibikin simpel menjadi “Al-Mizan”. Yayasan pun kemudian bernama “Al-Mizan”, telah dibuatkan akte notarisnya pada tanggal 15 Maret 1993. Sejak tahun inilah pendaftaran santri dibuka, dan tahun ajaran pertama diselenggarakan dengan menampung jumlah santri sebanyak 67 orang, yang berasal dari daearah Rangkasbitung, Serang, Labuan hingga Karawang. Tokoh-tokoh masyarakat Kapugeuran dan sekitarnya diundang untuk turut-serta mendukung dan mendoakan kehadiran pesantren Al-Mizan, dengan pemimpinnya Kiai Anang Azharie, serta didukung oleh istrinya Ustadzah Nunung Khairiyah yang bertindak selaku pendidik dan pengasuh santriwati. Di tahun ajaran kedua 1994, jumlah santri meningkat, hingga dibutuhkan sekitar empat ruang kelas. Konsekuensinya, salah satu kelas terpaksa beratapkan plastik tanpa dinding. Setelah tiga bulan, atap plastik itu pun keropos dan bobrok, hingga kemudian digantinya dengan atap seng yang agak permanen. Pada tahun-tahun ini Pesantren Al-Mizan belum memiliki fasilitas dan sarana yang memadai untuk kegiatan santri dalam beribadah maupun berolahraga. Dalam aktifitas salat berjamaah para santri dan guru masih bergabung dengan masyarakat Kapugeuran di mushalla kampung, sedangkan pelaksanaan salat Jumat masih di mesjid agung Al-A’raf di alun-alun Rangkasbitung. Adapun fasilitas dan sarana olahraga, para santri Al-Mizan masih memanfaatkan semua fasilitas yang berada di sekitar alun-alun, seperti sepak bola, volley, basket, hingga lari marathon. Bersama Ustadzah Nunung, Kiai Anang Azharie terus bertekad untuk berkiprah di dunia pendidikan, sampai akhirnya merancang suatu agenda baru untuk mengasramakan para santrinya di suatu kampung terpencil, yang masih dikelilingi oleh hutan-hutan belantara. Ketika saya mewawancarai Kiai Anang kelahiran Kresek, sekampung dengan Wapres Ma’ruf Amin untuk program penulisan buku “Jejak dan Pemikiran Pengasuh Ponpes Al-Mizan” Fikra Publishing, Jakarta, 2013, di kampung terpencil tempat awal-mula berpindahnya santri Al-Mizan diasramakan, saya tanyakan pada beliau “Pak Kiai, apa nama desa di sekitar sini?” “Desa Ancol, kecamatan Rangkasbitung, Lebak.” “Kalau nama kampung di sekitar sini?” “Kampung Narimbang, dari bahasa apa itu, Fis?” Kami terdiam sejenak. Dengan pandangan menerawang, saya pun menjelaskan, “Berarti, sejak tahun 1994 Pak Kiai memindahkan santri-santri Al-Mizan di suatu kampung yang bernama Narimbang. Ia berasal dari bahasa Sunda yang berarti menimbang atau pertimbangan.” “Astaghfirullah al-adzim….” Pengalaman Kiai Al-Bayan Tidak selamanya berjalan lancar. Baik sebelum mendirikan pesantren maupun selama merawat dan menjalankannya. Segala hal ada saja kendalanya. Baik soal keluarga besar pondok maupun santri yang bermasalah, atau bahkan soal logistik yang sangat terbatas. Cerita yang dialami Eeng Nurhaeni, pendiri dan pengasuh pesantren Al-Bayan ini, saya sampaikan berdasarkan “oral history” dari hasil pertemuan di kediamannya, setelah saya menjalankan ibadah umrah beberapa tahun lalu. Alkisah, di musim kemarau sekitar tahun 2002, banyak petani yang gagal panen. Perkebunan juga banyak mengalami problem kekeringan. Akibatnya, seperti matarantai yang saling berhubungan. Harga beras mahal, sayur-mayur dan rempah-rempah begitu juga. Dan konsekuensinya, infak bulanan dari para wali santri banyak yang menunggak, sulit untuk bisa diandalkan. Sementara itu, stok beras di gudang pesantren Al-Bayan, setelah ditengok oleh Kiai Eeng, hanya tersisa setengah karung yang pasti akan habis untuk makan santri selama satu hari itu. Lalu, besok dan lusa mereka mau makan apa? Kalau soal bumbu dan sayur masih bisa diusahakan, dengan mencari dedaunan dan rempah-rempah di perkebunan sekitar pondok. Tapi soal beras dan nasi? Kalau tidak ada di gudang, berarti semuanya harus dibeli dengan uang. Lalu, uang dari mana? Mengharapkan belas-kasih dari orang-orang sekitar, untuk memberi makan puluhan santri, rasanya amat mustahil. Tetapi, membiarkan santri kelaparan juga merupakan amanat dan tanggung jawab yang harus dipikul sedemikian beratnya. Kiai Eeng hanya bisa mengeluh dan mengaduh kepada Allah subhanahu wata’ala. Baginya, berpantangan untuk mengeluh di depan manusia yang sama-sama makhluk Allah yang banyak kekurangan dan kelemahannya. Jika seseorang memiliki kekuatan iman dan Tauhid, mengeluh kepada orang yang rendah kualitas imannya, justru dilarang oleh ajaran agama. Sepertiga malam itu, ia melaksanakan salat tahajud sambil menangis di hadapan Al-Khaliq. Hanya Allah Yang Maha Kaya dan memiliki kekayaan di seluruh jagat raya ini. “Ya Allah, Kau Maha Lembut bagi hamba-hamba-Mu yang meminta. Engkau Maha Pemberi rizqi bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Sungguh, Engkau Maha Kuat dan Maha Perkasa.” Seusai salat subuh di masjid pesantren, tiba-tiba seorang santri menemui Kiai Eeng di kediamannya. “Pak Kiai, ada tamu yang katanya mau ketemu dengan Pak Kiai.” “Siapa, dari mana dia?” “Maaf Pak Kiai, dia bawa mobil, tapi belum sempat saya tanyakan dari mana. Sekarang dia masih menunggu di pintu gerbang.” Setelah Kiai Eeng menemui tamu tersebut, tiba-tiba sang tamu bertanya, “Pak Kiai, apa betul tempat ini adalah pesantren?” “Ya betul, kenapa?” “Begini Pak Kiai, saya datang dari Jakarta. Majikan saya menyuruh saya membawa dua karung beras di mobil ini, untuk disedekahkan buat pesantren.” “Pesantren apa?” “Dia hanya berpesan, pokoknya pesantren mana saja, yang penting di daerah Rangkasbitung.” Seketika itu, Kiai Eeng mengucapkan terimakasih, dan salam untuk majikannya. Ketika empat santri Al-Bayan membawa karung beras tersebut, tak berapa lama mobil itu meluncur sedemikian cepatnya, dan menghilang di kejauhan. Wallahu a’lam. [] Yogyakarta – Di suatu wilayah yang bercuaca dingin, tepatnya di lereng Gunung Sumbing, terdapat sebuah desa bernama Wonoroto, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang. Di sana terdapat sebuah makam waliyullah asli kelahiran Desa Wonoroto, Magelang, yakni Syekh Muhammad Rohmat Amin atau Mbah Rohmat beliau kerap didatangi beberapa peziarah. Puncaknya setahun sekali setiap akhir bulan Zulkaidah, ribuan orang dari berbagai daerah dari wilayah Magelang dan sekitarnya hadir memperingati haul bisa demikian orang menghormati Mbah Rohmat? Karena beliau terkenal sebagai waliyullah yang memiliki banyak karomah. Salah satunya adalah lumpuh puluhan tahun tanpa cerita yang masyhur, semasa hidup beliau oleh Allah Swt dikaruniai sakit lumpuh sejak umur 25 tahun hingga beliau Masa Kecil dan Masa Muda Mbah RohmatDikutip dari tulisan Fahmi Ali, sejak kecil Mbah Rohmat Wonoroto hidup penuh keprihatinan. Ketika masih kanak-kanak, ayah beliau, Mbah Muhammad Amin diperintah mertuanya untuk transmigrasi ke Lampung mengikuti jejak mertuanya yang sukses di itu sebetulnya Mbah Amin enggan untuk transmigrasi, namun untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan akhirnya beliau memutuskan untuk berangkat bersama istri dan 2 anaknya yang masih kecil, termasuk Mbah Rohmat dan anak yang masih dalam kandungan di terminal Magelang Mbah Amin pamit ke istrinya untuk membeli makanan ringan sambil mengajak Mbah Rohmat ternyata Mbah Amin tidak kembali bergabung bersama istrinya untuk menuju Amin menggendong mbah Rohmat kecil menyelinap keluar terminal berjalan berhari-hari tanpa tujuan. Berjalan sambil menggendong mbah Rohmat yang masih hari beliau hanya minum air hujan dan bahkan setiap ada makanan pemberian orang beliau kasihkan ke Mbah Rohmat perjalanan beliau sampai di Desa Sukomarto, Kecamatan Jumo, Kabupaten Temanggung. Kemudian perjalanan berlanjut kembali ke desa Wonoroto sampai genap 2 sinilah Mbah Rohmat hidup bersama ayahnya secara pas-pasan hingga 25 tahun kemudian baru bertemu ibu serta saudara-saudara muda Mbah Rohmat sudah memperlihatkan keistimewaannya. Meski kondisi kaki sakit-sakitan, beliau dikenal sebagai santri yang rajin pergi berguru ke ulama-ulama sekitar Magelang dengan berjalan antara guru beliau adalah Kyai Sujud, Kyai Darwi, Kyai Kholil dan Kyai Darsin. Kyai Darsin sendiri adalah santri Mbah Maksum Lasem. Melalui Kyai Darsin inilah Mbah Rohmat mendalami ilmu agama dengan banyak mengkaji demikian sanad keilmuan Mbah Rohmat sampai ke Mbah Maksum Lasem. Sedangkan untuk jalur thariqah beliau mengikuti Thariqah muda Mbah Rohmat juga dikenal gemar berziarah ke makam-makam auliya’ wilayah Magelang. Beliau berziarah dengan berjalan kaki meski dalam kondisi tujuan ziarah masih di sekitar desa Wonoroto beliau kerap mengajak anak anak kecil dengan iming-iming mencari itu beliau lakukan untuk mengenalkan generasi muda tradisi ziarah agar kenal kepada leluhur. Maka tidak heran jika banyak yang ziarah ke makam beliau setelah Tentang Karomah Mbah RohmatKaromah beliau mulai terlihat ketika Mbah Rohmat Wonoroto mulai membuka majelis pengajian. Pada saat itu adalah masa paling menyedihkan. Saat itu adalah masa-masa awal kelumpuhan beliau, yaitu ketika beliau berumur 25 santri dan keluarga kebingungan bagaimana cara merawat beliau karena setiap kali disentuh beliau mengaduh kesakitan. Pada masa awal-awal kelumpuhan ini beliau masih sering minta tolong santri untuk buang air kecil atau buang air besar, itupun beliau lakukan 2 minggu 2 tahun berjalan, beliau sama sekali tidak buang hajat selama puluhan tahun sampai beliau wafat. Kabar sosok beliau sebagai kyai muda, alim namun lumpuh itu lambat laun mulai terdengar seiring berjalannya waktu santri beliau pun semakin banyak, hingga akhirnya beliau mendirikan mendirikan Pesantren Darul Muhtadin Wonoroto sekitar tahun juga oleh salah satu santri kinasih beliau, kyai Nur Qomar dari Desa Kentengsari, Kecamatan Windusari, Kabupaten dalam keadaan tidak bisa berdiri beliau mampu mangambil kitab-kitab di rak sekitar beliau dengan sangat mudah layaknya manusia normal hanya menggunakan tongkat Bambu kecil menggunakan tongkat bambu tersebut sambil tiduran dan kitab yang diinginkan sudah pasti jatuh di dada beliau. Setelah selesai dibaca kitab tersebut juga dikembalikan menggunakan tongkat bambu yang lain diceritakan oleh KH. Thoifur Mawardi Purworejo, ketika mengisi haul beliau. Kyai Thofur diberitahu tentang ke-ta’ajub-an Mbah Maemun Zubair Sarang Rembang pada Mbah mendengar kabar tentang Mbah Rohmat, Mbah Maemun bersilaturahmi ke kediaman Mbah Rohmat. Sesampainya di depan pintu, sebelum Mbah Maemun mengucap salam, Mbah Rohmat sudah mempersilahkan beliau posisi Mbah Rohmat di dalam kamar dan tidak ada yang memberitahukan kehadiran Mbah lainnya dalam tulisan M. Abdullah Badri yang dilansir oleh saat santri sedang renovasi rumah dan pesantren, beliau bisa memerankan diri sebagai pengawas renovasi yang atas kasur, sambil tiduran beliau mengingatkan tukang bahwa pengerjaannya kurang pas dan lain sebagainya. Sesekali santri juga dipanggil untuk diberi arahan renovasi, padahal beliau sama sekali tidak melihat sketsa bangunan yang sedang semua renovasi rampung kecuali atap rumah mbah Rohmat, santri segan mengutarakan maksud renovasi atap, karena menurut santri merupakan su’ul adab jika menaiki atap yang di bawahnya terdapat kyai yang sedang berbaring santri matur, mbah Rohmat menjawab,“Gimana, mau merenovasi atap? Tidak apa-apa nanti saya pakai selimut.”Kemudian santri mulai memanjat, namun anehnya ketika santri-santri sampai atap ternyata mbah Rohmat sudah tidak ada di pembaringan seperti hilang ditelan beberapa karomah Mbah Rohmat Wonoroto. Masih banyak sekali karomah beliau dari cerita-cerita masyarakat sekitar. Banyak sekali masyarakat sekitar yang datang semasa beliau hidup untuk meminta doa dan besar orang yang pernah sowan ke beliau juga mengatakan meski beliau tidak pernah ke toilet untuk mandi atau buang hajat namun beliau sama sekali tidak berbau badannya dan wajahnya pun terlihat bersinar. Padahal beliau juga minum-minum layaknya manusia pada umumnya. Assalamualaikum wr wb..Ini sedikit kilasan cerita seorang Kyai lakudalam perjalanan hidup ruhani/jasmani yg memang terjadi,kejadian ini berawal saat awal2 tragedi sampit..Mohon maaf gak ada maksud sara,dan juga jgn dikomentari kearah sara, maupun apalah yg menyinggung,sedikit kisah ini hanya sebagai kilasan gambaran bagaimana seharusnya bersikap arif dan yg utama iklas walau nyawa taruhannya..Sosok kyai ini sampai sekarang masih ini berawal saat beliau mendapatkan sejenis ilham atau isyarat atau apalah yg membuat beliau gundah dan bisa gak bisa harus beliau lakukan yaitu ke keyakinan ini beliau pamit sama bapaknya yg sudah renta dan juga pamit sama anak/istrinya dan seluruh santrinya yaitu pamit pati dalam artian kalau dalam 3 minggu gak pulang berarti sudah meninggal..saat pamit bapaknya yg memang hanya dia yg masih hidup, bapaknya melarang dan marah …Untuk apa km kesana itu kan tugas aparat untuk mengamankan..apa km lupa bagaimana dulu awal2 ponpesmu berdiri bagaimana kelakuan aparat ke kamu dan ponpesmu. siapa yg nyuruh km ..Lanjut bapaknya, apa jawab beliau, dgn singkat katasaya di suruh ALLAH .akhirnya dgn iklas bapak,anak/istrinya,santri2nya melepas beliau dgn tangisan dan doa..gak maksud apa memang kenyataanya cerita beliau sampai di daerah konflik antara d dan m..dari ilham yg di terima beliau akhirnya sampai di suatu dimana desa itu mayoritas suku M ..dan di kampung itu ada ponpes tak di nyana tak di duga ternyata pengasuh ponpes itu adik ngaji saat di itu begitu yg sangat mengkawatirkan di kampung itu terus berusaha bertahan dari serangan orang2 D ,padahal kampung itu gak tahu menahu akan permasalahan antara D dan M .mungkin karena mayoritas M ikut jg di jadikan beliau kasih saran usahakan perempuan dan anak kecil di keluarkan/ pembaca tahu padahal di kampung itu jg banyak keturunan M dan D yg sudah berbaur jd suami susah payah mengeluarkan perempuan/anak kecil akhirnya pembaca semua tahu arti ritual mangkuk merah khan..Kalo mangkok merah sudah masuk ke suatu daerah/kampung pasti disitu para prajurit2 D sudah siap untuk perang dan disusupi kekuatan tahu akan mangkok merah..Beliau berinisiatif untuk mencegah akhirnya beliau minta di sediakan kamar khusus..Beliau pun berdzikir .dari yg saya tahu ternyata beliau berusaha menghalau pasukan2 gelap leluhur yg berusaha di susupkan ke pemuda maupun masyarakat yg mayoritas D yang padahal mayoritas muslim juga di desa segenap karomah beliau,beliau jg mengerahkan beberapa kekuatan kerajaan jin muslim dr martapura dan 9 jagoan jin mu[email protected] beliau dr alas ketonggo,mereka perang untuk mengusir sawab kekuatan ritual mangkok merah yg masuk ke desa D itu yg membawa ribuan pasukan gelap gagal dan pasukan2 gelap pun gak jadi menyusup ke pemuda2 D yg siap perang .mungkin BOLOSAMARpernah dengar gagalnya mangkok merah masuk ke beberapa desa .akhirnya beliau langsung terjun ke lapangan untuk menemui tokoh2 D yang sebenarnya jg beragama islam,dgn pertemuan itu akhirnya tokoh2 D yg muslim sadar bahwa sesama muslim adalah dr tokoh2 D muslim beliau bertemu tetua adat di beberapa desa yg mayoritas D .akhirnya kesepakatan damai di capai dan tdk ikut ikutan dgn kekisruhan antara suku D+mel dan M karena sudah di tunggangi berjasa mendamaikan beberapa desa beliau jg di angkat oleh tetua adat sebagai saudara dan di beri penghargaan tinggi dr tokoh2 desa D dan M yg awalnya 5 pusaka dayak pemberian tanda persahabatan sampai sekarang masih di hanya sedikit kisah nyata yg di alami seorang kyai yg melakukan hal yg tanpa pamrih dan demi kedamaian sesama boloKHODAM SAKTI ini hanya gambaran untuk kita senantiasa hidup dalam tolong menolong tanpa pamrih dan penuh keikhlasan. dan memang nama beliau sengaja saya rahasiakan takut di jewer saya.. ada kata maupun ucap yg salah mohon di kita semua dan seluruh umat muslim selalu di jaga dr fitnah Dajjai akhir jaman. Amien.. Mabes Laskar Khodam Sakti Jl. Elang Raya , Gonilan, Kartasura Solo, Jawa tengah WA +6285879593262

kyai karomah tinggi yang masih hidup